Categories
Current Affairs

Mendesak Polri Gelar Rekonstruksi Suara Tembakan

Jakarta, 24 Juli 2022. Lembaga Kajian Demokrasi Public Virtue Research Institute dan Komite Pengacara untuk Hak Asasi Manusia (KPHAM) menyampaikan apresiasi atas langkah kepolisian yang melaksanakan pra-rekonstruksi atas peristiwa yang menurut kepolisian merupakan aksi tembak menembak antara Bharada E dan Brigadir J di rumah kediaman Kadivpropam non-aktif Ferdy Sambo (Sabtu, 24/7).

Meskipun demikian, kedua lembaga ini menyayangkan bahwa kepolisian tidak melakukan prarekonstruksi atas suara tembakan. Padahal hal tersebut sangat diperlukan sebagai wujud akuntabilitas kepolisian kepada masyarakat luas.

“Prarekonstruksi diperlukan agar publik dapat melihat keseriusan polisi dalam mengusut kematian Brigadir J. Dalam negara demokrasi, langkah-langkah semacam ini dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban publik kepolisian kepada masyarakat demi kredibilitas kepolisian,” kata Direktur Eksekutif Public Virtue Miya Irawati.

Miya menjelaskan, mengingat derasnya spekulasi masyarakat di media sosial atas kasus ini, maka polisi seharusnya tidak tanggung-tanggung dalam bekerja. “Kami mendesak jajaran Komisi III DPR RI untuk melakukan fungsi control dan pengawasan demokratis atas kinerja kepolisian. Kasus ini terlalu mencolok di masyarakat,” katanya

Pada kesempatan yang sama, Koordinator KPHAM Abusaid Pelu menyayangkan kepolisian yang tidak melakukan rekonstruksi suara tembakan.

“Rekonstruksi suara tembakan itu penting untuk menguji benar tidaknya penembakan tersebut terjadi di rumah dinas Ferdy Sambo. Setidaknya untuk mengetahui seberapa besar tembakan-tembakan yang setidaknya berjumlah 12 kali itu dapat terdengar di lingkungan setempat. Jenis senjata dan peluru harus sama. Dan harus disaksikan oleh pihak RT setempat agar akuntabel,” kata Abusaid yang juga merupakan pengacara Perhimpunan Advokat Indonesia.

“Kami juga menyayangkan jika kepolisian ternyata tidak melibatkan pengacara keluarga Brigadir J. Pelibatan mereka sangat penting untuk memastikan kredibilitas kerja penyidik di lapangan. Jika tidak, maka itu sama sama dengan menunjukkan bahwa proses penyidikan tidak berjalan secara transparan sepenuhnya,” tambahnya.

Latar belakang

Berdasarkan pantauan media, prarekonstruksi dimulai pada siang hari, yaitu sekitar pukul 11.20 WIB. Kemudian tim penyidik mulai menggelar prarekonstruksi di rumah kediaman Ferdy Sambo.

Petugas kepolisian melibatkan sejumlah tim, antara lain Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis), Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), Kedokteran Kepolisian (Dokpol), dan penyidik gabungan kepolisian.

Sejumlah petinggi Polri sempat mendatangi kediaman Ferdy yang terletak di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan. Antara lain Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, Kabagpenum Humas Polri Kombes Nurul Azizah, Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi.

Pengacara Brigadir J Johnson Panjaitan baru tiba di lokasi sekitar pukul 15.05 WIB. Menurut kuasa hukum Brigadir J tersebut, alasan mereka terlambat adalah karena mereka tidak diundang untuk menyaksikan prarekonstruksi tersebut. Ia mendatangi lokasi untuk mengonfirmasi prarekonstruksi ke pihak kepolisian.

Gelar prarekonstruksi berjalan hingga petang, ditandai dengan tim gabungan secara bergiliran mulai keluar dari rumah Ferdy Sambo.

KONTAK MEDIA:

Muhammad Daud Berueh, Jurubicara Komite Pengacara untuk HAM (+62 812-8782-1830)

Mohamad Hikari Ersada, Public Virtue Research Institute (+62 858-4295-8736)

Leave a Reply